Malam Jatuh di Argopuro
Malam Jatuh di Argopuro
Halo semuanya! Kali ini saya akan bercerita cukup panjang dan mungkin akan membosankan, meski begitu, semoga pembaca mendapatkan apa yang dicari:)
Perencanaan
Argopuro! Mengapa harus Argopuro dan ada apa dengan nya? Yaa awalnya sih karena saya memiliki utang dengan diri saya sendiri. Dulu, di tahun 2017 seharusnya saya sudah mendaki gunung ini. Namun apa boleh buat, meski tiket kereta menuju Stasiun Pasar Turi sudah di tangan, tapi saya tak mampu melawan kehendak tuhan. 2 minggu sebelum pendakian saya diberi sakit panjang bahkan sampai-sampai setahun saya tidak dapat mendaki. Awalnya saya ingin memaksa, tapi ibu saya berkata “sudah legowo saja, percaya bahwa rencana tuhan lah yang terbaik”. #curcolbos
Tibalah 2 tahun kemudian, tepatnya sekitar Bulan Juli. Berawal dari obrolan ringan seputar pendakian, berakhir dengan rencana perjalanan. Kami memutuskan untuk memilih Gunung Argopuro sebagai destinasi pendakian. Selama 1 bulan kami menggali informasi sebanyak-banyaknya, dikarenakan diantara kami bertujuh belum pernah ada yang mendaki Gunung Argopuro. Singkat cerita, hari keberangkatan pun tiba. Anjaaai.
Hari Keberangkatan
Senin, 5 Agustus 2019 Saya dan Jeje berangkat menuju Terminal Pasar Jumat. Disana kami berdua sudah ditunggu oleh kawan lain yang bernama Rapii dan Kulub. Sementara 3 orang lainnya yaitu Kumis, Dilnyong dan Azka sudah lebih dulu berada di Jawa Timur, Kumis dan Azka berada di Malang sementara Dilnyong berada di Surabaya.
Singkat cerita, Saya dan Jeje terjebak macet sehingga kami berdua ditinggal oleh bus yang seharusnya kami tumpangi bersama Rapii dan Kulub. Hangus sudah uang tiket sejumlah 260k dan waktu, mau tidak mau kami juga berpisah dengan Rapii dan Kulub karena mereka berdua sudah didalam bus menuju Kota Malang. Akhirnya Saya dan Jeje terpaksa beli tiket lagi dan menunggu kedatangan bis berikutnya. Setelah 2 jam menunggu, datang juga bis yang kami tunggu, kami mau ambil bis ini karena kata calonya bus ini direct ke Kota Malang tanpa oper-operan bis. Tapi nyatanya?
Nyatanya jam 2 pagi kami berdua dibangunkan lalu disuruh turun di pinggir jalan Kota Tuban. Awalnya kami bingung, ternyata kami dioper ke bis lain karena penumpang bis tinggal kami berdua, sehingga bis tidak lagi melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang melainkan kami berdua dioper ke bis lain yang ternyata di pagi itu menuju Kota Surabaya, caur. Kami berdua pun keluar dari bis dan disambut dengan gelap gulita dimana saat itu masih dini hari. Kami diturunkan ditempat yang teramat sepi dan gelap, untungnya itu dipinggir laut, jadi saya dapat menghibur diri dengan cara mengamati dan mendengarkan deburan ombak sambil menunggu bis datang. Kami berdua sedikit kesal, bukan karena takut akan bahaya dunia jalanan yang gelap itu, melainkan hal ini tidak ada dikesepakatan awal. Sekitar jam 3 akhirnya bis pun tiba, kami segera masuk kedalam bis.
Kami terkaget lalu menghela napas karena ramai sekali isinya. Sempat bingung mau duduk dimana, akhirnya calo nya mencarikan kami berdua tempat duduk karena kami penumpang spesial (asik). Tempat duduk didalam bus itu ada yang 2 dan ada yg 3 seat, kami kedapatan di seat yang 3, sempit sekali hingga kami menaruh carrier diatas paha kami. Ingin protes rasanya, mengingat kami bayar untuk suasana yang seharusnya nyaman, tau gitu cari bis yang lebih murah lagi. Tapi tak apa, bawa santai brok! Namanya juga jalan-jalan, pasti ada kendala namun kami menerima juga menyukainya.
Sebelum Pendakian
Selasa, 6 Agustus 2019 tiba di Terminal Bungurasih Kota Surabaya sekitar jam 7:30 pagi. Beruntung kami tak menunggu lama karena ada bis yang sudah mau berangkat, yah walau dikenakan biaya lagi sih haha. Langsung saja kami berdua memasukkan carrier kedalam bis lalu saya izin ke keneknya untuk pergi ke toilet sebentar dan ia pun mengizinkan. Selepas membuang air seni yang saya tahan sejak semalam, saya bergegas menuju tempat parkir bis mengingat itu detik-detik keberangkatan.
Belum sampai diparkiran, tiba-tiba saya bertemu dengan Jeje lalu ia berkata “dicariin ege, mau ditinggal kita”. Langsung saja kami berlari dan saya bertanya kepada Jeje “Gimana dah orangnya? Orang gua dah bilang mo ke toilet” lalu Jeje membalas “Au noh error keknya” setibanya diparkiran bis, carrier saya sudah tergeletak dipinggir jalan, untungnya bis belum berjalan jauh dan kebetulan si kenek melihat ke belakang, jadinya kita ga ditinggal deh. Hampir saja ditinggal, akhirnya kami berdua naik dan disewotin supirnya yang berkata “Gimana sih mas gatau udah telat apa?” Saya cuekin dah tuh, mau adu argumen juga mager, ya kan yang ngomong boleh ke toilet padahal keneknya yak..
Oiya, harga tiket dari Terminal Bungurasih menuju Terminal Arjosari itu sekitar Rp 15.000,00 dengan estimasi waktu perjalanan 1,5 sampai 2 jam. Sekitar jam 9:30 kami tiba di Terminal Arjosari, lalu naik angkot menuju Basecamp SOS Malang.
Setibanya di basecamp, kami beristirahat sebentar lalu langsung berbenah dan mengecek ulang semua kebutuhan pendakian. Bau-bau ngaret sudah tercium mengingat pada saat itu waktu menunjukan pukul 13:00, yang mana seharusnya semua anggota sudah berkumpul dan memastikan untuk terakhir kalinya bahwa semua kebutuhan pendakian sudah lengkap, ini malah ada satu anggota yang belum kunjung tiba, mana pada saat itu kita gatau barang dia udah lengkap atau belum. Ia lah orang yang selalu akrab dengan hal sial, entah karena ulahnya atau memang kesialan yang menghampiri dirinya, sepertinya kesialan sudah menjadi nama tengahnya. Siapa ia? Ialah Dilnyong! Sebelum lebih lanjut, alangkah baiknya saya menyebutkan teman perjalanan kali ini, berikut para pejalan :
-Dilnyong (Fadil) : Si sial
-Rapii (Rafii) : Si sendu
-Kumis (Ihsan) : Si diem
-Jeje (Zanki) : Si kuat
-Azka : Si giat
-Kulub (Fikri) : Shie gembel uyyeah
Akhirnya Dilnyong pun tiba sekitar jam 14:00, itupun barang belum lengkap. Yang seharusnya berangkat sehabis ashar ini malah sehabis magrib. Setelah menyusun rencana alternatif, pukul 18:00 kami berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkot.
Tak lama mencari akhirnya kami dapat angkot kosong yang didalamnya kami berbincang dengan supir angkot mengenai tujuan kami, yaitu mendaki Gunung Argopuro. Yang ditakutkan terjadi, dimana jam operasional bis dari Terminal Arjosari menuju alun-alun besuki sudah lewat. Beruntung sopir angkot mengenalkan kami kesalah seorang rekannya yang merupakan supir taksi, namanya Cak Congkel. Dengan mobil avanzanya beliau menawarkan jasa antar, lalu saya bertanya “pak mohon maaf, ini aman kan ya bertujuh dengan masing-masing carriernya? Belum lagi ada dua tenda?” Bukannya Cak Congkel yang menjawab, sopir angkot nyeletuk “kuat mas ini mah avanza bukan ayla”
…...oke…..
Dalem hati tereak *LHAAAIYAA PAHAM, saya juga bisa liat kali wkwkwk cuman kan ini padet parah dan gabijak kalo dipaksa*
Yaa mau gak mau. Setelah negosiasi, akhirnya kami melesat menuju alun-alun besuki estimasi perjalanan sekitar 6-7 jam. Kebayang kan naik avanza diisi 8 orang dan bagasi hanya muat 2 carrier. Jadi ya carrier melintang diatas badan ahahaha, yang kasian mah si Dilnyong, doi duduk di row ketiga dan terapit di antara Saya dan Jeje, ditambah lagi lubang bokongnya menduduki colokan seat belt. Tak cukup sampai disitu, saya duduk disebelah kirinya dan merokok, nah tangan saya sengaja udah keluar jendela dan udah rada kebelakang gitu loh biar bara nya ga masuk ke mobil. Naas, ada satu bara terbang gatau ya gimana bisa, padahal waktu itu baranya udah terbang mengarah kearah luar belakang mobil, eh tiba-tiba baranya masuk lagi ce wkwkwk mana gede banget lagi. Tebak apa yang terjadi berikutnya? Ya apalagi, bara terbang dan jatuh tepat di jidat padil wakakakaka palanya langsung ada bekas bara. Yang bikin ketawa semobil itu, kita rame-rame sempet ngeliat bara nya dari nyala ampe mati sementara dia teriak-teriakan pengen matiin bara di jidatnya gak bisa karena tangannya mau gerak ketimpa carrier ahahah. Siapa suruh jidat kilang minyak, baranya jadi susah mati kan tuh!
Ditengah perjalanan, kami berbincang dengan Cak Congkel seputar hidup, mulai dari bahasan seputar pendakian, budaya, agama hingga premanisme. Cak Congkel bernostalgia tentang kerasnya jalanan karena dulu sempat jadi preman di Priuk 12 tahun lalu beliau tobat, jadi bahasan malam itu gak abis-abis deh. Namun karena saya kurang tidur sedari kemarinnya, saya izin tidur. Belum lama tidur ternyata sekitar pukul 02.00 dini hari kami sudah sampai, sampai dipinggir jalan alias mobilnya mogok.
Lanjutan Perjalanan Menuju Basecamp Baderan. Selasa, 6 Agustus 2019 menuju Rabu, 7 Agustus 2019
Sekitar 2 jam mencari solusi tanpa harus mengeluarkan uang lagi, tiba-tiba para ojek alun-alun besuki dengan skill aji mumpungnya menghampiri kami dan mengaku sebagai perantau yang ingin menolong, padahal Saya sendiri sudah menyadari bahwa mereka akamsi besuki. Saya minta tolong Cak Congkel untuk membantu negosiasi dengan para ojek yang tidak mau ditawar itu. Akhirnya negosiasi harga yang cukup sadis dari kami berhasil disepakati, hehehe. Lalu kami berpamitan dengan Cak Congkel dan seperti orang tua pada umumnya ia berkata “Jangan lupa salam”.
Setelah melawan arah jalanan dan melintasi bukit, tibalah kami di Basecamp Baderan sekitar jam 5 pagi. Oiya, sebelum itu ada cerita yang cukup mengocok perut kami di pagi hari. Dimana ojek yang ditumpangi Azka dan Dilnyong (triceng ce) memulai sekaligus mengakhiri percakapan dengan nyeletuk “Nih mas, harusnya 100 ribu nih, ini malah 40 ribu. Liat coba jalannya kaya gini, mas nya gak kasian apa?” Dilnyong dan Azka diem aja, antara lucu dan kasian. Ya gimana brok karena kalo kami nurutin harga mereka yang ada malah kami yang kurang uang untuk simaksi. Ya memang sih, jalanannya penuh lika-liku dan tidak ada satupun lampu, cuman ya gimana hahaha. Singkat kami menyalami tempel para ojek lalumemasak dan menyiapkan simaksi pendakian. Di Basecamp Baderan ada 1 toilet milik Basecamp yang cukup bersih, dan di sekitar Basecamp ada beberapa warung yang buka pada pukul 06:00 pagi. FYI, simaksi pendakian pada hari biasa seharga 20k, sementara pada hari libur dikenakan 25k, kebetulan kami mendaki selama 4 hari, jadi biaya yang dikenakan 85k. Tapi kami hoki, gatau gimana tapi kami dapet discount jadi 75k perorang hehe. Sekitar jam 8an kami melesat menuju pos mata air 1.
Hari Pertama Pendakian. Rabu, 7 Agustus 2019.
Pukul 09:00 kami tiba di pos mata air 1. Setelah briefing dan berdoa kami berjalan sebentar lalu bertemu dengan pagar kayu yang merupakan tanda titik awal pendakian. Checkpoint berikutnya yaitu Pos Mata Air 2 yang pada umumnya ditempuh sekitar 2 jam berjalan. Namun karena kami mengejar waktu, pada saat itu kami berhasil menghemat waktu perjalanan hingga 1 jam 12 menit. Di Pos Mata Air 2 terdapat mata air yang airnya aman untuk diminum. Tempat ini merupakan mata air pertama di Gunung Argopuro via baderan. Setibanya disana kami langsung mengisi ulang persediaan air lalu ngaso sebentar sekitar 15 menit, setelah selesai ngaso kami melanjutkan berjalan menuju Sabana 1 atau yang biasa disebut Sabana Kecil.
Ditengah perjalanan kami juga beristirahat beberapa kali, trek yang hampir tertutup oleh tumbuhan, tanjakan tipis-tipis, debu yang berterbangan, belum lagi teriknya mentar membuat kami cepat lelah. Hal tersebut wajar mengingat kami mendaki pada musim kemarau. Penting untuk menggunakan buff atau alat penutup lainnya serta menjaga jarak ketika melewati trek seperti ini. Setelah melewati beberapa tanjakan juga turunan tibalah kami di sabana 1 sekitar jam 10:45 pagi, kami beristirahat sebentar di bawah satu-satunya pohon yang ada di sabana kecil. Amat teduh rasanya, namun masih saja kami menemukan sampah yang berserakan, ya walau gak sebanyak di gunung lain sih cuman tetap aja. Malahan ada yang naro putung rokok di batang pohon, jadi kayak dipaksa nyempil gitu, ada-ada aja yak.
Kami melanjutkan perjalanan pada pukul 11:15, melalui hutan yang berkabut, dan trek yang dipenuhi semak belukar, sekitar jam 12:45 tibalah kami di Sabana 2 atau yang disebut Sabana Besar. Perdebatan pun terjadi, si Jeje ingin sekali bersantai dan merokok, tapi perjalanan masih cukup jauh, biasa dah mulut aseman. Tak lama, kami pun berjalan ke tengah sabana. Disana kami merasa amat kecil dan bersyukur, bersyukur diberikan kesempatan bertafakur alam, yang bikin greget banget. Di sabana yang luas nan indah itu, hanya ada rombongan kami. Serasa punya sendiri deh hahahaha gila ini saya nulisnya aja seneng banget jadi kebawa suasana pada saat itu.Teringat akan indahnya ilalang yang menguning dan indahnya panorama sekitar.
Setelah cukup mengambil beberapa video dan merokok bersama agar jeje lebih tenang, kami langsung bergegas menuju sungai qolbu alias sungai cikasur. Karena, kami ingin menikmati senja di sungai cikasur, aih senja. Ditengah perjalanan menuju cikasur, kami beristirahat sejenak dan tiba-tiba kami bertemu seorang pendaki liar yang kami persilahkan untuk bergabung dengan kelompok kami.
Pukul 14:30 kami sampai di Sungai Cikasur atau yang biasa disebut Sungai Qolbu, sungai yang sangat jernih airnya dan memiliki suasana yang unik, disana, terdapat sebuah pohon besar di kejauhan yang telah lama tumbang dan melintasi sungai, dan di atas pohon itu ada sekawanan burung merak yang bertengger dan mengeluarkan suara khasnya. Oh, sungguh indah, andaikan kau disini. #ea
Selain airnya yang aman untuk diminum, di sungai ini terdapat selada air yang aman untuk langsung dimakan, enak banget ce kalo di makan pakai mie instan rebus. Setelah mengambil selada air secukupnya sebagai tambahan lauk makan malam, sekitar pukul 16:30 kami bergegas mencari tempat berkemah. Tempat favorit berkemah di cikasur ada 2, yang disebut pohon pertama dan pohon kedua. (kasih poto padil ama rapii) Pohon pertama bertepatan dengan bungker bekas tentara jepang dan pohon kedua berjarak sekitar 100 meter dari pohon pertama. FYI, dulu cikasur sempat difungsikan sebagai lintasan pesawat udara pada masa jajahan jepang. Namun bukti-bukti nya sudah sedikit, paling-paling tersisa bungker nya saja.
Nah balik lagi ke cerita, kami memilih berkemah di pohon kedua. Sesampainya di pohon kedua, seketika niat ngopi hingga tengah malam yang sudah saya tancapkan dikepala saya hilang. Seketika suasana berubah, dari yang tadinya sore hari yang cerah, berganti dengan sabana yang diselimuti kabut. Meski hari belum gelap, tapi saya sudah menyadari kalau memang suasana nya mencekam. Ada satu kejadian yang terserah pembaca mau percaya atau tidak, tapi sudah sumpah kami untuk menceritakan pengalaman kami sesuai kejadian tanpa buatan atau melebih-lebihkan.
Kejadian ini berawal dari Saya yang dijatuhi tetesan air berkali-kali dan dilanjutkan dengan rasa penasaran Saya darimana sumber tetesan air tersebut. Yang jelas pada saat itu tidak hujan, jadi saya langsung berinisiatif meraba lalu menggenggam akar gantung yang teruntai dari atas pohon. Oiya, mungkin deskripsi Saya akan cukup membantu. Pohon kedua ini merupakan pohon yang memiliki akar gantung, kebetulan saya tidak tahu namanya (ntr tny jeje) yang jelas bukan pohon beringin. Pohon kedua ini cukup besar dan rindang, diameter batang sekitar 1,5 meter dan lebar pohon termasuk daun-daunnya sekitar 10 sampai 15 meter. Selain kabut yang menyelimuti sabana, kesunyian argopuro memang tiada dua, jos tenan lur. Singkat setelah saya meraba dan menggenggam akar yang menggantung, disitu Saya menyadari bahwa tetesan air bukan dari akar maupun daun pohon. Karena pada saat itu sudah Saya survey menggunakan telapak tangan (anjas) tapi tidak basah sama sekali, yaa mungkin survey nya kurang ya harusnya sampai pucuk pohon (manjat dong). Mengetahui fakta tersebut, saya tidak menceritakan ke teman-teman saya karena takut malah mereka tersugesti, ya sudah anggap saja sambutan baik dari alam. Tapi ternyata, alam tak membiarkan saya merasakannya sendiri.
Jeje yang sedang memasak tiba-tiba nyeletuk “Et ujan yak? Apa masak dalem tenda aja kali ya?”. Lalu saya menjawab “Udah gini aja, daripada penasaran dan malah nanggung-nanggung, mending tau sekalian aja yu, sebenarnya daritadi gua penasaran banget tapi gamau cerita. Sekarang nih kita bertuju keluar dari area bawah pohon abis itu berdiri aja diem selama 30 detik. Rasanya kalo memang hujan atau gerimis ya waktu 30 detik sudah cukup untuk membuktikan, apalagi kita bertujuh masa gak satupun kena tetesan.” Lantas kami bertujuh keluar area tenda lalu berdiri selama 30 detik. Tak satupun tetesan air mengenai salah seorang dari kami, akhirnya saya menutup topik tersebut dengan berkata “Nah udah tau kan jawabannya”. Semua langsung paham bahwa aneh rasanya kok dibawah pohon malah ketetesan air padahal diliat-liat gaada yang basah atau tanda-tanda air ngalir, tiba-tiba ketetesan aja gatau darimana, padahal kalo memang hujan seharusnya kan diluar area pohon kami lebih mudah terkena tetesan air. Wallahu a’lam bishawab.
Berhubung sudah menjelang malam, kami pun melanjutkan kegiatan dan membagi tugas. Saya, Kumis, Rapii, dan Dilnyong merakit tenda sementara Jeje dan Kulub bertugas memasak. Kalau tugas si azka, itu tugas khusus dia seorang yaitu membuat api unggun. Menyadari suasana yang mencekam Saya mengusulkan untuk makan di tenda Saya yang berkapasitas maksimal 5 orang, otomatis ada dua orang yang diluar tenda, pas bagi mereka yang masak hahahah. Saya memang suka isengin orang, disitu saya tahu kalau 2 orang yang diluar sedang ketakutan hahahahahah. Sekitar pukul 19:00 kami sudah merapat kedalam tenda untuk bersiap makan bersama. Setelah selesai makan, kami memastikan api unggun telah mati sampai ke arang-arangnya lalu menggantung kantung sampah diatas pohon agar tenda kami tidak diusik babi hutan. Dilnyong sudah lebih dulu tertidur karena dirinya kurang fit, mengingat 2 hari sebelum pendakian ia sempat sakit, mungkin ia belum sepenuhnya siuman. Berbincang setelah makan malam sambil menikmati langit dengan jutaan bintang, pukul 21:30 kami mulai memasang sleeping bag hingga akhirnya tertidur. Meski kami sudah menggantung kantung sampah diatas pohon, tetap saja tenda kami dihampiri babi hutan, untungnya hanya mengendus-ngendus tenda tapi gak rusuh.
Hari Kedua Pendakian. Kamis, 8 Agustus 2019
Mentari yang mulai menyengat berhasil membangunkan kami, dan ketika kami melihat jam ternyata waktu menunjukan sudah setengah 10 pagi. Padahal, kami sudah menyiapkan alarm jam 5 pagi, mungkin kami terlalu lelah mengingat kami harus menghadapi perubahan rencana pada saat sebelum pendakian. Walau nyawa belum sepenuhnya kumpul, sebagian dari kami langsung memasak, dan sebagian lainnya rapih-rapih juga membersihkan area tenda. Ketika Kami membersihkan area tenda, kami menemukan sampah yang berceceran, di malam sebelumnya kami telah menemukan beberapa sampah lalu kami memungutinya, bayangin lagi gelap-gelap aja ketemu, gimana siang? Meski sampah nya tidak sebanyak di gunung-gunung lain yang notabennya mainstream, sampah yang berceceran itu tetaplah sampah dan itu wujud dari ketidak bertanggung jawaban seseorang terhadap lingkungan. Makin kecewanya kami ketika kami menemukan kotoran hewan yang didalamnya ada bungkus kemasan makanan ringan. Untuk teman-teman pendaki, ketika kalian buang sampah sembarangan di gunung, sebenarnya yang kalian buang bukan hanya sampah saja, tapi otak kalian juga.
Pukul 11:30 kami menuju sungai cikasur untuk bersih-bersih sambil mengisi cadangan air juga memetik selada air sebagai perbekalan makanan. Rencananya sih bentar doang, eh malah main air hehe. Akhirnya sekitar jam setengah 1 kami baru melanjutkan perjalanan menuju Sabana Lonceng dimana harus melalui Cisentor dan Rawa Embik lebih dulu. Pada umumnya perjalanan dari cikasur menuju cisentor itu sekitar 3 jam lebih. Tapi kami berhasil menghemat waktu perjalanan karena kami berjalan cepat. Oiya, dikarenakan ada 2 orang dikelompok kami yang kurang fit, kami bertujuh memutuskan untuk membagi 2 kelompok, yang berisikan 3 orang dan 4 orang. Kelompok pertama yaitu saya, jeje, dan azka akan membawa beban yang lebih berat juga akan berjalan didepan lebih cepat. Tujuannya agar anggota yang tidak fit dapat langsung beristirahat ketika sampai di Sabana Lonceng tanpa harus repot-repot membangun tenda dan memasak.
Tibalah kami dicisentor jam 3 sore, disana terdapat sungai yang terkandung belerang, jadi airnya tidak boleh untuk diminum tapi boleh digunakan untuk bersih-bersih. Rencana awal, kelompok pertama begitu tiba di sungai cisentor yaitu memasak untuk semua anggota kelompok baik kelompok pertama maupun kedua. Oleh karena itu, kelompok pertama langsung merebus air. Namun, bukannya merebus air untuk menyiapkan lauk, tapi malah merebus air untuk menyeduh kopi hehehe. Alkisah, merdunya aliran air disungai cisentor, juga bunyi yang timbul dari gesekan dahan-dahan pohon yang tertiup oleh angin membuat kelompok pertama lalai akan tanggung jawab untuk menyiapkan makanan. Setibanya kelompok kedua disana, kelompok pertama hanya bisa tertawa sambil menyuguhkan kopi, kendati marah karena makanan belum siap, kami semua malah tertawa bersama, indahnya.
Singkat setelah memasak dan makan bersama, jarum jam membuat kami khawatir karena ditunjuknya pukul 16:30, kami menyadari rasanya tak mungkin jika malam ini memaksa berjalan menuju destinasi akhir yaitu Sabana Lonceng. Tak ingin berpikir panjang, yang penting kami bergegas menuju Rawa Embik terlebih dahulu. Kelompok pertama langsung bergegas menuju destinasi berikutnya yaitu Rawa Embik yang estimasi perjalanannya sekitar 4 jam.
Bisa dibilang jalan kelompok pertama pada saat itu tergolong ngebut, tapi hal cukup sia-sia ketika kami bertemu si kucing besar. Sebenarnya cukup sulit untuk menggambarkan situasi yang ada, mungkin jelasnya nanti di podcast SOS, namun setidaknya akan saya upayakan untuk bercerita tentang kejadian waktu itu se detail mungkin.
Awalnya Saya mendengar geraman kucing besar, lalu saya bertanya ke Jeje dan Azka apakah mereka mendengar juga, tapi ternyata mereka tidak mendengar. Menurut saya hal itu cukup aneh mengingat saya berjalan ditengah barisan, seharusnya ketika saya (yang diposisi tengah barisan) mendengar, minimal orang didepan atau dibelakang saya salah satu ada yang dengar juga, pun saya sempat berpikir mungkin ini halusinasi saya belaka.
Lalu kami melanjutkan berjalan beberapa langkah dan di arah jam 2 kami terdengar auman si kucing besar begitu keras, asli panik bukan main, dan tiba-tiba ada pergerakan berjarak 10 meter didekat semak belukar pada arah yang sama. Tak lama ada sautan auman lain tapi kali ini dari bukit seberang arah jam 9 kami.
Seperti di film-film, setelah auman keras yang bersautan itu, si Jeje yang berjalan paling depan menoleh pelan-pelan kearah saya. Jelas terlihat matanya yang berkaca-kaca, mukanya yang tercengang seakan menggambarkan campur aduknya perasaan antara takut sekaligus kagum. Hal yang serupa ketika saya melihat wajah Azka yang panik dan pasrah, hal ini sangatlah wajar karena kami berjalan tanpa pemandu dan awam dalam ilmu survival. Kami diam tanpa kata, bingung, akhirnya untuk mencairkan suasana saya sok tenang lalu berkata “et udah bawa ngeroko ae, sans aja ntar kalo diem-diem gini malah diteror kita” lalu saya memberikan korek ke Jeje dan tak lama saya tertawa, mengapa? Saya tertawa melihat Jeje yang kesulitan menyulut rokoknya dengan korek api yang apinya kerap bergetar karena memang dirinya bergetar hahahaha.
Kami memutuskan untuk menunggu kelompok 2, kami khawatir keadaan akan makin parah ditambah lagi hari mulai gelap. Akhirnya 2 orang yang kurang fit kami masukkan ke tengah barisan, lalu kami melanjutkan perjalanan penuh terror. Ya kami paham permasalahan terbesarnya adalah adanya kemungkinan timbul dugaan bahwa kami hanya mengada-ngada, karena kami bercerita tanpa ada bukti fisik dari si Kucing Besar, entah auman ataupun raganya. Tapi percayalah kami bukan tipikal pemuda yang mudah tersugesti, apalagi sampai rela membual demi menjual cerita, justru kami bersyukur tidak dihampiri secara langsung depan-depanan sama itu macan, kalau dihampiri justru itu bukan hal yang kami inginkan.
Perjalanan menuju Rawa Embik merupakan perjalanan yang sedikit lamban. Selain kondisi fisik salah seorang dari kelompok kami menurun, ditambah kurangnya penerangan karena senter yang rusak juga gangguan hewan entah hewan apa yang kerap bergerak mengiringi perjalanan kami didalam hutan pada malam hari. Akhirnya kami sampai di Rawa Embik sekitar jam 7 malam. Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, kami memilih untuk bermalam di Rawa Embik. Walau tujuan kami untuk bermalam di Rawa Embik salah satunya karena menghindari gangguan hewan buas, justru sebenarnya Rawa Embik merupakan tempat favorit hewan di Argopuro untuk minum pada saat malam hari. Penentuan bermalam di Rawa Embik juga berarti kami harus merelakan momen matahari terbit di Puncak Rengganis, tidak mungkin juga kami bangun dini hari untuk menempuh perjalanan menuju Puncak Rengganis sementara kondisi fisik anggota kami sedang kurang memungkinkan, selamat tinggal untuk sang fajar di rengganis (huhu) (lebay).
Hari Ketiga Pendakian. Kamis, 8 Agustus 2019
Belajar dari kesalahan, semalam kami tidur lebih awal. Sekitar pukul 6 pagi kami terbangun dan mulai beraktivitas. Lumayan lah, ternyata sunrise di Rawa Embik ga sebiasa aja yang kami bayangkan. Rawa Embik di pagi hari memiliki suasana yang cukup unik, warna panorama yang ada lebih mirip seperti sore hari. Pagi yang dingin tidak menyurutkan semangat kami untuk bergerak cepat menuju sabana lonceng, kami harus bergegas, demi mengejar ketertinggalan kami mengingat rencana awal yang sebenarnya ingin bermalam di sabana lonceng tapi tidak kesampean. Tentunya estimasi perjalanan yang telah kami rancang terpaksa mundur beberapa jam. Oleh karena itu kami harus benar-benar mengeluarkan tenaga ekstra agar kami tak lagi tergilas oleh waktu yang sombong.
Karena terlalu bersemangat, si Dilnyong lelumpatan dari batu yang ada di sisi sungai, ke batu yang ada di sebrang sungai. Niat bahagia malah sengsara, jidat nya terkena daun jancuk yaitu daun khas Gunung Argopuro. Perih, panas, dan nyut-nyutan, itulah yang dirasakan akibat sotoy pengen atraksi. Ya lagi dan lagi, gimana ga ngaret terus coba, kejadian seperti ini otomatis akan memakan waktu, belum lagi ketawa ngeliat muka Dilnyong si Raja Sial.
Pukul 8:30 setelah packing dan bersih-bersih. Kami mulai treking menuju sabana lonceng. Estimasi waktu, berkisar 2 sampai 3 jam, tetapi kurang dari 2 jam kami tiba disana. Trek ini mengingatkan kami kepada trek Gunung Arjuno via Purwosari, tanjakan yang didominasi banyak pohon tinggi yang banyak diantaranya telah tumbang.
Kembali ke Sabana Lonceng, tempat ini sendiri merupakan camping ground yang terletak diantara 2 puncak, yaitu puncak argopuro dengan puncak rengganis. Ketika sampai di sabana lonceng, terdapat patokan arah ke arah barat yang mengarah pada Puncak Rengganis. Juga ada patokan arah lain yang mengarah ke arah timur yang menunjukan arah puncak argopuro. Urutuan paling umum yaitu mendaki puncak rengganis terlebih dahulu karena kalau Puncak Argopuro dan Hyang berada disatu jalur yang nantinya dapat menuntun kita kearah cemoro limo dan yang berujung pada hutan lumut dan danau taman hidup.
Arah puncak rengganis dengan puncak lainnya berbeda itu membuat kami memutuskan untuk tidak membawa carrier ke Puncak Rengganis hitung-hitung dapat mengirit waktu dan tenaga. Lalu kami menaruhnya didalam semak belukar demi menghindari monyet yang memang banyak di sabana lonceng. Mempersiapkan perbekalan secukupnya kedalam daypack, lalu kami kembali tracking menuju puncak rengganis. Setelah kurang lebih 15-20 menit berjalan, tibalah kami dipuncak rengganis. Trek yang didominasi Bebatuan cadas ini membuat puncak rengganis terlihat putih anggun. Dari atas Puncak Rengganis kita dapat melihat laut dikejauhan, juga pada area bawah belakang puncak terdapat komplek reruntuhan candi yang terlihat sangat gersang tanpa pepohonan, banyak juga yang bilang kalau tempat itu merupakan petilasan Dewi Rengganis. Usut punya usut, diarea puncak rengganis masih terdapat banyak harta karun yang terpendam, harta karun tersebut merupakan mahar-mahar dari puluhan pangeran yang melamar dewi rengganis, satu persatu pangeran berguguran karena memperebutkan dewi rengganis, mereka bertarung hingga akhirnya mereka semua terkubur bersama mahar mereka. Nama Rengganis sendiri diambil dari nama seorang dewi cantik dari kerajaan majapahit, yang dibuang ke Argopuro lalu meninggal disana.Kenangan-kenangan tersebut semakin terkubur bersama sunyi dan dinginnya dataran tinggi Argopuro, Yang ikut tenggelam berbaur dengan cerita rakyat, kulturisme dan rasa acuh ‘atas nama modernisasi’ akan fakta sejarah itu sendiri.
Melanjutkan perjalanan, turun lah kami dari Puncak Rengganis untuk melihat petilasan yang ada dibelakang puncak. Tak lama setelah itu, kami mengambil carrier kami didalam semak belukar lalu bergegas menuju Puncak Argopuro yang mana kami tiba pada pukul 13:45. Saat berjalan menuju Puncak Argopuro, akhirnya saya bertanya ke tim saya apakah mereka mendengar suara gamelan. Ternyata, selama ini mereka mendengar juga, tapi diantara kami tidak ada yang ingin mengomunikasikan. Sebenarnya suara gamelan ini sudah terdengar sejak kami di Sabana Lonceng, hanya saja saya berpikiran kalau suara tersebut berasal dari desa yang ada di kaki gunung yaitu Desa Bremi. Selain itu, saya juga ber husnudzan hitung-hitung kami disambut dengan baik sekaligus iringan musik penyemangat selama berjalan. Sedikit cerita, kami percaya ada nya hal-hal gaib apalagi di gunung, tapi tidak semua kami percaya karena seringkali penambahan cerita di tiap kejadian itu kerap terjadi. Kami berupaya menyeimbangkan antara rasionalitas dan mistisme, entah percaya atau tidak yang terpenting ialah menghormati. Hal ini kerap terjadi apalagi didalam dunia traveling, kejadian seperti ini membuat kami ingin bertanya, tapi sering dijumpai orang-orang yang sekedar meng iya-iyakan cerita sekaligus menjual cerita mistis yang ujung-ujungnya dimonetisasi. Pengalaman-pengalaman yang sering terjadi seperti ini membuat kami dapat membedakan mana yang benar-benar bisa dan paham juga mana yang sok-sok an.
Kembali pada rangkaian perjalanan, kali ini tentang ketinggian 3.088 mdpl, puncak Argopuro menjadi puncak tertinggi dari beberapa puncak yang ada di kawasan Suaka Margasatwa Pegunungan Hyang. Meski puncak ini merupakan puncak tertinggi di gunung argopuro, tapi puncak ini masih didominasi banyak vegetasi, hal ini membuat pemandangan dari puncak kurang terlihat.
Letak puncak ini berada sekitar 200 m arah selatan puncak Rengganis. Letaknya juga berada diantara dua buah gunung api besar yaitu, Gunung Semeru (3.676 mdpl) dan Gunung Raung (3.332 mdpl). Puncak Argopuro kerap kali disebut juga Minak Jingo ditandai dengan sebuah tugu ketinggian (triangulasi) yang merupakan bagian dari "Die Triangulation von Java" karya Dr Oudemans (1897). Tugu ini sekaligus menjadi salah satu penanda batas Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Probolinggo di Jawa Timur.
Die Triangulation von Java sendiri adalah sebuah buku terbitan tahun 1897. Dimana pada tahun 1875 - 1895, badan pemetaan kolonial Belanda telah mentriangulasi pulau Jawa dan Madura. Semua 929 titik triangulasi sudah diterbitkan sebagai daftar dalam buku tersebut. Sebagian dari tugu tersebut sudah hilang. Kemungkinan hanya 100-200 tugu saja yang masih bisa ditemukan. Sayang kami hanya dapat menikmati keheningannya sejenak, dikarena kami harus bergegas menuju puncak bayangan sebelum jarum jam berada tepat di angka dua.
Berjalan sekitar 5-10 menit menuju puncak Hyang adalah perjalanan yang cukup memicu adrenalin, entah semua pendaki merasakan ini atau tidak, tapi jalanan yang curam dan sempit serta terpaan angin yang amat kencang membuat kami berjalan sempoyongan pada situasi yang menegangkan tapi menyenangkan. Puncak hyang adalah puncak terakhir yang ada di gunung argopuro. Dalam bahasa kawi, Hyang berarti dewa, puncak ini berada di ketinggian 3.015 meter diatas permukaan laut. Disana, terdapat banyak Arca dan juga sesajen. Namun sayang, katanya sih arcanya banyak yang dicuri. Selain disebut Puncak Hyang, puncak ini juga dapat disebut Puncak Arca atau Puncak Bayangan. Nama Puncak Arca berasal dari fakta bahwa terdapat dua buah arca. Konon katanya dulu berbentuk sapi dengan kepala terpenggal, disayangkan sekarang bentuknya sudah sulit untuk ditebak. Banyak beredar kabar dari warga lokal bahwasannya mereka menamai daerah ini sebagai bukit hantu karena mereka percaya jika arca yang berada di sana adalah perwujudan dari Dewi Rengganis. Pun jangan heran kalau disepanjang area gunung sering dijumpai banyak sajen. Oiya, selain itu, jangan heran juga kalau sering menemukan jejak kaki si kucing besar pada trek. Terdapat banyak misteri pada puncak ini, tapi kami bersyukur, alih-alih merasa “diganggu”, kami malah merasa bahagia karena pemandangan yang sangat indah.
Terdapat arca di sebuah puncak gunung terpanjang merupakan hal yang luar biasa, mengingat trek yang dilalui saja sudah panjang dan melelahkan, hal ini membuat kami penasaran bagaimana dahulu para leluhur kita membawa arca ke Puncak Hyang dengan kondisi hutan lebat dan trek yang panjang.
Jam menunjukan pukul 14:45, kami bergegas meninggalkan puncak hyang menuju tempat camp terakhir, yaitu danau taman hidup. Yang mana harus melewati Cemoro Limo dan Hutan Lumut terlebih dahulu. Pemandangan yang sungguh epic, menuruni tebing cukup curam dengan lautan awan disekeliling kami. Kali ini kami disambut dengan 2 cabang jalan yang membingungkan, satu jalan kearah barat terlihat ada sebuah jalan yang panjang dan landai, namun didepan mata kami ada trek namun trek ini merupakan trek yang amat terjal.
Informasi tentang trek yang terjal ini tak pernah kami temui dimana pun kami membuka blog atau vlog pada saat mengumpulkan informasi sebelum pendakian. Bayangkan, trek yang terjal dan berpasir, bagi saya sendiri trek ini cukup sulit dan belum pernha ada digunung-gunung yang saya daki sebelumnya, pun lebih terjal ketimbang tanjakan setan Gunung Gede. Turunan terjal ini dilengkapi dengan tali yang menurut saya sendiri itu kurang kuat, ya pokoknya bahaya deh.
Setelah perbincangan bersama tim dan mengikuti saran asal-asalan dari si Dilnyong, kami memilih trek yang terjal. Dilnyong bilang kalo jalanan yang ke arah barat itu kayanya bukan jalanan dan malah muter kemana tau, padahal saya bilang itu jelas jalanan jika dilihat dari rumputnya yang telah membentuk trek jalanan karena sering dijajal. Ya apa boleh buat, saya pikir tak ada salahnya mencoba turunan yang seru ini, pun biasanya yang bahaya-bahaya gini kan jalan pintas.
Ternyata? Tak jauh beda, pun jikalau ada perbedaan, pastinya yang beda jauh itu medan treknya, bukan waktunya. Kalau waktunya sih paling-paling beda 5-10 menit. Sebenarnya kurang bijak jika memutuskan kalau trek ini sama saja dengan trek yang landai karena kami belum menjajal trek yang landai, mungkin kapan-kapan lagi (ehh skip cape). Selain terjal, juga banyak ditemukan jejak kaki si kucing besar, juga sedikit sekali tanda-tanda trek ini habis dilalui oleh manusia. Kami pun dibuat sedikit tegang oleh trek ini, karena kami pikir jangan-jangan kami salah trek. Capek, bingung, juga ditambah dengan fakta bahwa beberapa dari kami ada yang takut dengan ketinggian. Tapi seperti biasa kami tetap cuek dan tetap berjalan sambil bercanda. Setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami menemukan sebuah tanda kalau ini merupakan jalan yang benar, anjas. Hal ini ditandai oleh diikatnya sebuah handuk ke batang pohon yang langsung dapat membuat hati kami menjadi tenang.
Setelah keluar dari trek yang terjal dan membingungkan, tibalah kami di sebuah lembah yang didominasi oleh pohon-pohon besar yang tak memiliki daun. Bagi saya pribadi, lokasi ini merupakan lokasi yang paling mencekam di Gunung Argopuro. Ujung dari cabang-cabang kayu yang kering seakan merobek cakrawala dan mengusir pergi sang mentari. Menghasilkan gelap yang amat sunyi tanpa suara satwa dan angin. Pada saat itu juga, saya menyadari kalau rekan-rekan saya telah lelah. Hal itu terlihat dari raut wajah mereka, bahkan Jeje dan Azka yang kuat sekalipun seakan membuat raut wajah yang pesimis karena badan mereka yang sudah mulai pegal dan sakit. Belum makan dan persediaan air yang telah menipis, ditambah dengan tatapan mata dilnyong yang kabur sambil berkata “nanti gua ceritain ce” makin membuat mental kawanan menurun. Oleh sebab itu, timbul lah inisiatif saya untuk menghibur dan berusaha menguatkan dengan cara kami, apalagi selain bercanda.
Bercanda tak pernah usai, sambil bercanda kami pun mengeluarkan alat bantu penerangan berupa senter dan headlamp. Tapi karena mulai hari pertama headlamp teman saya ada yang rusak, akhirnya saya meminjamkan headlamp juga senter cadangan saya. Alhasil saya menggunakan cahaya flash dari hp saya yang mana saya ikat kuat ditongkat kayu yang saya temukan mulai hari pertama, memang sedikit resiko tapi apa boleh buat.
Perjalanan pun berlanjut, seperti biasa syarat pertama perjalanan yaitu merapikan barisan mulai dari menyisipkan anggota yang tidak fit ketengah barisan lalu memastikan jarak antara 1 dengan yang lainnya tak lebih dari 1 meter. Tibalah kami di Cemoro Limo, yang merupakan pertanda bahwa sedikit lagi kami akan memasuki Hutan Lumut. Demi saksi bisu perjalanan, tak pernah kami lihatnya sunset seindah ini diatas gunung. Biasanya gunung terkenal dengan fenomena matahari terbitnya, tapi tidak pada saat itu yang Alhamdulillahnya telah kami dokumentasikan. Lautan awan yang tertembus oleh cahaya matahari seakan membuat halusinasi akan gulali oranye. Kami terdiam dan saling mentap fenomena itu sambil terheran-heran.
Dari kejauhan, saya menyadari ada api yang menyala ditengah hutan. Saya langsung berkata “Mungkin ga sih ada orang camping sambil nyalain api ditengah hutan? Apa iya taman hidup sudah sebentar lagi? Kalau iya, berarti kita udah ngelewatin taman hidup dong? Barangkali orang lain iseng camping disitu ya, seengganya ketemu orang dulu dah buat mastiin”. Sebenarnya, yang membuat kami jadi bertanya-tanya adalah lamanya tempo perjalanan kami, banyak yang tidak sesuai dengan apa yang sudah kami estimasikan berdasarkan informasi yang kami tampung sebelum pendakian. Padahal estimasi waktu sudah kami lebihkan dan kami tidak banyak melakukan rest. Tapi saya sendiri mencoba berpikir rasional yang mana mungkin hal ini disebabkan oleh kaki teman saya yang sudah sakit-sakitan sehingga banyak rest. Berjalanlah kami menuju sumber api, alih-alih ada orang yang camping ternyata terjadi kebakaran. Alhamdulillah bukan kebakaran yang hebat, entah sebabnya apa, tapi saya sendiri berpikir kalau ini merupakan ulah seseorang yang mungkin membuang putung rokok sembarangan. Perjalanan kami pun harus berhenti beberapa saat demi berusaha memadamkan api yang untungnya belum terlalu besar itu.
Api yang berkobar telah padam, anehnya kobar api yang ada didalam dada kami juga turut padam. Hal ini disebabkan oleh mulai masuknya kami kedalam area Hutan Lumut. Fyi, hutan lumut merupakan hutan yang masih tebal sekali vegetasinya, bahkan banyak yang bilang kalau sudah didalam hutan ini siang rasa petang. Saking rimbunnya vegetasi sehingga menghalangi terangnya cahaya matahari untuk masuk kedalam hutan ini. Seharusnya, kami menjelajah hutan ini pada siang hari dan tiba di Danau Taman Hidup pada sore hari, tapi ini malah malam hari. Kebetulan saya berjalan dibarisan terdepan, berkali-kali saya menemukan trek yang terasa sama dengan penanda trek yang amat mirip bahkan sama. Banyak diantara kaum penjual cerita akan mengatakan kalau “kita diputerin”. Bagi kami, diputerin ya diputerin, tapi jangan sampai praduga suudzan dirimu yang malah membuat kamu diputerin. Fenomena seperti itu memang benar adanya, tapi ada juga rasa lelah dan bingung yang membuat dirimu tidak berpikir secara jernih dan selalu menyalahkan situasi serta mengambil jalan pemikiran yang pintas yaitu “dibuat nyasar”.
Kerap kali saya menipu teman-teman saya dengan perkataan :
“Weh bulan dah mau keliatan tuh, berarti vegetasi mulai tipis, pertanda mau keluar hutan.”
“Lu pada denger suara kodok ga? Ada suara kodok pertanda ada air, berarti dikit lagi nyampe danau nih.”
Mungkin ini yang disebut bohong demi kebaikan, karena menenangkan hati orang lain dan membuat semangat hahahaha. Meski pada nyatanya tipu-tipu semacam ini hanya bertahan selama 30 menit lalu harus berpikir mau bohong apa lagi ya. Meski tau ini kebohongan, kawanan mengambil intisari nya yaitu “udah semangat jangan ngeluh bae percuma”, pun direspon dengan candaan berupa celetukan “kodak kodok kodak kodok” hahahah.
Berjalan, berjalan, dan berjalan. Seakan sekawanan serigala yang hilang arah, bingung yang hanya berjalan kedepan, mengikuti arahan tanpa tau mau dibawa kemana, lelah, pasrah, bingung dan mulai linglung. Gangguan babi hutan pun kerap terjadi dan membuat kami terus berjaga. Pukul 21:15 kami keluar dari hutan lumut.
Tapi situasi yang rumit ini belum juga selesai, kami dihadapkan dengan 5 persimpangan jalan. Mau mencar buat cek satu-satu malah riskan udah pada cape ntar malah gajelas, akhirnya kami memutuskan untuk memilih satu jalan yang memang ternyata jalan yang benar. Terlihatlah sebuah pos penjaga yang terdapat beberapa toilet, diliha-lihat dari area nya, memang ini area camping. Medan area yang dibuat melingkar dan pagar kayu yang memang handmade semakin meyakinkan kami bahwa kami telah dekat dengan Danau Taman Hidup.
Tadinya, kami malah hampir berniatan tidur di hutan belantara disamping trek, cari yang landai lalu mendirikan tenda, untunglah tekad yang membawa kami sampai di area camping ini. Sekarang, yang menjadi kebingungan kami yaitu mana taman hidupnya? Kami telah keluar dari hutan, meski sudah mencapai titik yang pasti tapi jangan-jangan taman hidupnya masih jauh. Pada tempat yang seperti area kemah tersebut, kami berdiri dan mengamati sekeliling, ada beberapa cabang jalan lagi. Ada satu jalan yang terlihat paling memungkinkan namun diawal jalan tersebut terdapat plang yang kurang lebih bertuliskan “Hati-hati, banyak satwa liar blablabla” kasarnya kurang lebih begitu.
Saya tak mau bertaruh, terakhir kami makan siang hari, persediaan air pun tinggal beberapa teguk, meski dirasa ada satu jalur yang paling memungkinkan tapi sudah ada rambu untuk hati-hati yang mana terlalu banyak resiko. Pun satu jalur yang memungkinkan ini terlihat seperti sabana yang dipenuhi kabut, kami berpikir kalau harus jalan ditengah sabana gelap-gelap dan ternyata danau nya masih jauh, alangkah baiknya melanjutkan perjalanan esok pagi. Paling tidak meski besok pagi tetap belum makan dan minum, kami sudah tidur dan hari mulai terang.
Kamipun mengecek toilet yang ada, barangkali terdapat air yang mengalir dari keran. Sama sekali berbanding terbalik, begitu saya membuka toilet isinya cuman koloni lalat yang hingga di kotoran manusia yang jumlah dari masing-masing lalat dan kotorannya tak bisa dibayangkan, banyak banget bos. Serius deh, itu orang yang bab disitu kok bisa ya? Maksut saya kan mendingan kita cari lokasi diluar toilet yang jauh dari trek untuk BAB. Toiletnya kan gaada air terus tu orang cebok pake apaan? Nah kalau tidak menggunakan air kan berarti sama-sama aja ya, seengganya ga keganggu sama bau kotoran orang lain. Hadeh ada-ada aja. Tak lama setelah momen geli bersama, kami mendirikan tenda dan langsung tertidur pulas tanpa makan dan minum.
Hari keempat, Sabtu 10 Agustus 2019.
Tak ada satupun surprise yang lebih berhasil dan membahagiakan ketimbang pagi itu. Rafii merupakan orang yang pertama keluar dari tenda, sekitar jam 5 lewat. Dirinya terheran ketika melihat ada gumpalan kabut yang bersemayam diam. Alih-alih sesuatu yang mistis dan rumit untuk dijelaskan, pendekatan ilmiah pun dijelaskan olehnya. Kabut yang berkumpul biasanya bersemayam diatas air, dan ternyata semalaman kami tidur didepan Danau Taman Hidup. Betapa sumringahnya kami ketika keluar dari pintu tenda, melihat danau yang bernuansa mistis. Cuaca yang dingin justru menambah semangat kami untuk berlari menuju pesisir danau sambil mengangkat carrier dan tenda. Berlari-lari sambil tertawa didalam tebalnya kabut yang menyelimuti area danau, sambil sesekali memegang rumput dan dedaunan yang membeku akibat dinginnya suhu disekitar danau merupakan salah satu gema memori terbaik dalam hidup kami. Dikumpulkannya kayu bakar lalu kami membuat api kecil-kecilan yang tentunya kami bakar diatas tanah yang telah kami buat garisnya lalu sehabis itu kami pastikan benar-benar mati. Beberapa dari kami ada yang memancing, ada yang fokus pada api kecil yang sukar menyala dan kerap mati, ada yang langsung bermain air sambil bersih-bersih.
Dimasaknya satu-satunya ikan yang didapat dari hasil memancing. Karena rasa lapar sekaligus syukur, dibuatnya kami sumringah oleh ikan yang hanya sebesar jari tengah itu. Sesuai janji kami mulai dari sebelum pendakian, yang mana akan diadakannya pesta makan di Danau Taman Hidup, kami memasak spagetthi, nasi goreng, dan ikan kaleng. Bak hewan buas yang menahan lapar.
Kerap kali kesialan menyertai Dilnyong, bayangin aja dia jalan dijembatan kayu menuju dermaga yang ada di danau. Itu kan kayu susunan ya ga full kayu jadi ada spasi-spasinya, terus doi kepeleset kakinya terperosok masuk nyelip diantara kayu susunan yang ada dijembatan, kocak bat ngeliatnya.
Alhasil kami meninggalkan Danau Taman Hidup jam setengah 1, perjalanan menuju Basecamp Bremi juga tak kalah mengesankan. Pepohonan pinus, aliran air, dan perkebunan membuat potongan ingatan yang indah sekaligus mengentalkan kesan pedesaan yang asri.
Tibalah kami di Basecamp Bremi milik Cak Arifin. Beliau sendiri sangat terkenal dikalangan desa juga dikalangan pendaki dari antah berantah. Kami berbincang banyak sekaligus justifikasi akan pengalaman mistis yang sebenarnya belum saya ceritakan, sebenarnya itu salah satu alasan yang membuat perjalanan kami kerap terlambat. Alangkah baiknya saya akan menceritakannya di podcast SOS pada kanal spotify, atau mungkin pada obrolan video di kanal youtube SOS.
Setelah ini kami akan memberikan informasi selengkap mungkin tentang Argopuro. Mulai biaya hingga estimasi waktu perjalanan. Kami juga akan mengeluarkan video dokumentasi kami di YouTube. Semoga menghibur dan bermanfaat.
Terimakasih banyak untuk tim SOS dan orang-orang yang barang outdoor nya kami pinjam hahaha. Juga kepada Jeje, Azka dan Kulub yang kerap kali menemani perjalanan SOS. Sampai ketemu diperjalanan berikutnya, babay!
Berikut waktu pendakian Gunung Argopuro Baderan - Bremi selama 4 hari versi SOS. Berdasarkan dari jadwal dibawah, semoga pembaca dapat membuat estimasi perjalanannya sendiri.
Day 1
08:20 - 09:00 Perjalanan dari Basecamp menuju Mata air 1
09:00 - 10:15 Berjalan cepat dari Mata air 1 menuju Mata air 2. Biasanya bisa memakan waktu 2-3 jam
10:30 - 15:30 Mata air 2 menuju Danau Qolbu Cikasur
16:30 – 16:40 Danau Qolbu menuju Camp penginapan Cikasur
Total perjalanan (tidak termasuk istirahat) = 6 jam 45 menit
Day 2
10:00 – 15:00 Perjalanan panjang dari Cikasur menuju Cisentor (Air Belerang)
16:00 – 19:30 Cisentor menuju Rawa Embik
Total perjalanan (tidak termasuk istirahat) = 8 jam 30 menit
Day 3
08:30 – 10:30 Perjalanan dari Rawa Embik menuju Sabana Lonceng
10:40 – 10:55 Sabana Lonceng menuju Puncak Rengganis
13:30 – 13:50 Perjalanan dari Sabana Lonceng menuju Puncak Argopuro
14:20 – 14:30 Puncak Argopuro menuju Puncak Hyang
14:50 – 18:00 Perjalanan dari Puncak Hyang menuju Cemoro Limo
18:00 – 22:00 Perjalanan Panjang dari Cemoro Limo menuju Taman Hidup
Total perjalanan (tidak termasuk istirahat) = 9 jam 45 menit
Day 4
13:00 – 17:00 Taman hidup menuju Basecamp Bremi
Total perjalanan = 4 jam


















Komentar
Posting Komentar