4 Hari Untuk Selamanya
East Java Fookin Road Trip
Halo folks! Kali ini Sons mau berbagi cerita soal road
trip di jawa timur bulan februari kemarin. Sons ingin menjelajahi berbagai
destinasi mulai dari dataran tinggi hingga dataran rendah, diantaranya ; Air
Terjun Madakaripura, Kawah Ijen, Pulau merah, dan yang terakhir yaitu Teluk
Hijau di Taman Nasional Meru Betiri. Seduh minuman hangat, bikin suasana tempat
teman-teman saat ini senyaman mungkin, lalu putar playlist https://open.spotify.com/playlist/6fr3g5huYsZKDaIQO891bl?si=1fec48a1b1a0411f selamat
membaca!
Sebelum Perjalanan
Perjalanan SOS episode kali ini ditemani 3 teman
perjalanan, mereka adalah Bayem, Faiz, dan Kusum. Pada tanggal 1 Februari Kusum
berangkat menuju malang, disusul oleh Rafii dikeesokan harinya. Sementara Bayem
dan Faiz, mereka berangkat menuju Kota Malang pada tanggal 3 Februari 2021. Kalau
penulis sendiri sih enak sudah berada di Kota Malang hehehe.
H-2 perjalanan, kami mulai memastikan rencana dan
anggaran perjalanan kami. Rencana perjalanan yang awalnya 6 hari terpaksa harus
berubah dikarenakan anggaran tim yang seadanya. Perubahan rencana perjalanan
pun terjadi, mau tidak mau kami harus melaukan road trip selama 4 hari. Tapi
tenang saja, karena ternyata perjalanan tersebut adalah 4 hari untuk selamanya.
Sabtu, 6 Februari 2021
Menunaikan kewajiban dipagi hari, lalu sarapan dengan dinginnya
Kota Malang juga silhouette pegunungan membuat nuansa detik-detik menuju
perjalanan makin terasa menyenangkan. Pada pukul 07:00 kami mengecek ulang
perbekalan perjalanan kami dan 1 jam setelahnya kami berangkat menuju Air
Terjun Madakaripura yang berlokasi di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Kabupaten
Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Air Terjun Madakaripura
sendiri merupakan air terjun tertinggi di Pulau Jawa yang ketinggiannya mencapai
200 meter. Estimasi waktu perjalanan menuju Air Terjun Madakaripura sekitar 2
jam 30 menit. Nantinya teman-teman akan menemui pos penjaga sekitar 2 kilometer
sebelum pintu masuk Air Terjun Madakaripura guna membayar uang parkir
kendaraan. Karena kami menggunakan mobil, jadi kami dikenakan biaya parkir sejumlah
Rp 5.000.
Setibanya diparkiran, kami langsung dikerubungi para
ojek yang menawarkan jasa antar menuju pintu masuk Air Terjun Madakaripura.
Awalnya kami ragu-ragu dan cenderung tidak mau, karena mereka bilang jarak
tempuh menuju tempat masuk air terjunnya sejauh 5 KM. Kami berasumsi
bahwasannya itu hanyalah akal-akalan mereka saja. Dilain sisi, harga yang
ditawarkan cukup murah yaitu Rp 10.000, murah tapi bagi kami cukup menguras
karena perjalanan ini benar-benar menggunakan biaya yang pas-pasan. Akhirnya
kami memutuskan untuk menggunakan jasa ojek, dan ternyata keputusan ini tepat
karena beneran lumayan jauh jikalau berjalan kaki. Diperjalanan menuju pintu
masuk, kami melihat panorama perbukitan yang indah sekali. Pemandangan ini
benar-benar membuat kami makin semangat menjalani hari. Tibalah kami di pintu
masuk Air Terjun Madakaripura, dikenakan biaya Rp 25.000 untuk tiket masuk per orang.
Hal-hal yang menurut kami harus dipersiapkan sebelum memasuki destinasi yaitu
roti atau snack untuk mengganjal perut sekiranya lapar, air mineral
minimal 600 ML, dan ponco/jas hujan. Dibutuhkan waktu sekitar 25-45 menit
berjalan tergantung pada tempo berjalan, 25 menit telah berlalu tibalah kami di
area Air Terjun Madakaripura. Awalnya kami harus berjalan dibawah semacam
setengah goa yang dihujani air-air dari aliran air disekitar air terjun. Oiya,
jalanan disana cukup berbahaya bagi yang tidak terbiasa, oleh karena itu disana
banyak orang yang menawarkan jasa sebagai pemandu wisata, terkait harganya
sendiri kami tidak tahu karena kami tidak bertanya-tanya dan menggunakannya.
Menelusuri jalan disamping air, tibalah kami di bawah Air Terjun Madakaripura.
Sungguh megah dan mencengangkan. Tingginya air terjun, panorama tembok batu
besar yang mengelilingi area, hingga bunyi gemuruh yang dihasilkan oleh
derasnya air. Berdasarkan cerita rakyat, tempat ini merupakan tempat Patih
Gajah Mada melakukan moksa, yaitu semacam ritual guna melepaskan diri dari
ikatan duniawi dan menuju keabadian. Sekitar satu setengah jam kami menikmati
suasana sekaligus mengambil dokumentasi di Air Terjun Madakaripura, kami tidak
bisa terlalu lama karena langit yang mendung sudah mulai menurunkan gerimis.
Repot urusannya kalau hujan deras, bisa-bisa jalan pulang tertutup oleh
derasnya air yang mengalir. Oiya, kami termasuk beruntung, karena sudah sekitar
2 minggu berturut-turut, biasanya jam 11 siang itu hujan, tapi Alhamdulillah
pada saat kami kesana tidak hujan sama sekali.
Singkat cerita kami kembali ke parkiran untuk makan
siang, melihat kami mengeluarkan perbekalan untuk dimakan, seorang penjaga
warung menawarkan untuk makan ditempatnya, “Mas makan disini aja, gapapa kok
dibawa bekelnya” ujarnya. Seperti biasa karena saya orangnya penasaran, saya
bertanya dengan hati-hati terkait berapa harga sewa buka warung disana, dan
ternyata warung disana tidak membayar sewa. Jadi ada seorang tuan takur
didaerah Air Terjun Madakaripura yang membolehkan warga sekitar untuk membuka
warung atau usaha lainnya di daerah parkiran tersebut, dan mereka hanya perlu
membuat warung tanpa membayar uang sewa. Satu-satunya biaya yang dipungut
hanyalah biaya air sejumlah Rp 5.000 kepada tuan takur, well i can say it’s a
fair system. Salute to tuan takur (gatau Namanya). Sekedar saran, kalau lagi
bawa uang lebih banyakin jajan ya, bukan nyuruh konsumtif melainkan lumayan
bagi-bagi rejeki ke pedagang. Air Terjun Madakaripura sempat ditutup mulai
maret hingga bulan september karena pandemi. Mereka buka dibulan oktober dan
mereka bilang pengunjung turun drastis. Entah warung sehari dapat berapa duit,
tapi kalau penghasilan para ojek sendiri biasanya itu bisa mencapai Rp 50.000
sehari, ini sehari Rp 10.000 saja sudah untung. Untungnya rata-rata dari mereka
memiliki peternakan atau ladang sendiri guna mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Start pada pukul 14:20 dari Air Terjun Madakaripura
kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen di Banyuwangi, 5 jam 30 menit merupakan
waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan menuju Kawah Ijen yang kurang
lebih berjarak 200 KM. Sayangnya kami melewati PLTU Paiton di sore hari padahal
pemandangan malam hari yang dihasilkan dari PLTU Paiton sangatlah indah, asli
cari aja di google soalnya kami ga sempet dokumentasi, males kalo naro foto
orang hehe. Ditengah perjalanan menuju Kawah Ijen ban kami sempat bocor,
beruntung saja lokasi kejadian tidak jauh dari bengkel tambal ban. Ketika kami
menunggu ban yang sedang ditambal, tetiba kami dihampiri oleh seorang yang
berawakan islami. Pria tersebut turun dari kuda besinya lalu mengobrol singkat
dengan tukang tambal ban, tak lama dirinya menghampiri kami. Dirinya mengucap
salam, dan kami pun menjawabnya. Lalu dirinya bertanya kepada kami dan
terjadilah percakapan singkat diantaranya ;
O : “Wuih ganteng-ganteng amat, ini lagi kaya orang
korea” Ujarnya seraya menunjuk saya hehe:p
Kami pun merespon dengan tawa, lalu dirinya menanyakan
dari mana kami berasal dan akan kemana kami pergi. Kami menjawab bahwasannya
kami dari Jakarta dan hendak pergi ke Kawah Ijen, lalu dirinya menyarankan
untuk sesegera mungkin memulai pendakian begitu setibanya di Kawah Ijen, karena
takut kami akan melewatkan blue fire, ya memang menurut penulis pribadi
kita semua harus berterimakasih kepada tuhan yang maha esa karena telah
memberikan Kawah Ijen beserta api biru nya. Pria tersebut juga berkata bahwa
dirinya senang melihat anak muda yang gemar jalan-jalan. Dirinya pun bertanya
lagi, kali ini pertanyaannya cukup serius jika melihat mimiknya ketika berkata
“Mau jalan-jalan ke gunung, laut, atau kemana juga, tapi tetep aja belum
sempurna. Tau gak kenapa ga sempurna?”
Kami terdiam, mau jawab tapi diantara kami berada
diposisi antara males jawab dan takut salah malah repot. Akhirnya dirinya
menjawab sendiri “Ga sempurna kalo gaada ceweknya!!! Masa batang semua…”
Dirinya ketawa hebat dan kamipun ikut tertawa mendengar tawanya, bahkan tukang
bengkelnya juga tertawa. Lalu ia lanjut berkata “Islam itu indah, dalemin tuh
Islam, lu boleh nikah 4 minggu bubar juga.” Kami hanya tersenyum dan penulis
pribadi sedikit kesal karena sebenarnya penulis kurang suka pemikiran seperti
itu, simple sih itu nikah karena cinta apa sange? Tapi saya tetap menghormati
kepercayaan beliau, besar kemungkinan beliau berangkat dari aliran yang
berbeda, well if u know, u know. Inilah seni traveling, kita semua
terpaksa menjadi extrovert saat menjalankannya, kita berangkat dari aliran yang
berbeda dan menjadi satu atas nama perjalanan. Peduli setan dengan aliran
selama tidak merugikan lingkungan (alam dan sosial).
Melanjutkan perjalanan, singkat cerita kami memasuki
area Bondowoso, kami disambut dengan hujan yang kadang besar kadang kecil juga
dengan kabut tipis yang makin lama makin tebal. Kami kurang menyukai
menghidupkan pendingin suhu di mobil ketika sedang jalan-jalan (kecuali macet
dijalanan, terutama siang). Selesai hujan, kami pun membuka jendela mobil
selama perjalanan di Bondowoso, Kabut-kabut jalanan pun menebal dan hingga
memasuki mobil. Hawa dingin makin terasa, dan kerennya ketika kami melihat
keatas, jutaan bintang sudah menyoroti kami dari atas langit. Kebayang kan,
emang bener banget tuh kata pria bersorban tadi, kurang cewek doang. Bayangin
aja kalo jalannya sama cewe di suasana yang begitu, terus setel lagu perfect
nya Ed Sheeran deh. Beh, kelar tuh idup.
Menyusuri jalan yang sedikit berlumpur akibat longsor,
kami harus berhati-hati, apalagi kabutnya benar-benar tebal. Singkat cerita
kami tiba di parkiran pada pukul 20:00. Penulis pribadi sedikit kaget melihat
parkiran yang sepi, karena kali pertama dan kedua penulis berwisata ke Kawah
Ijen, rombongan penulis selalu parkir kendaraan diluar parkiran. Ternyata
sebegitunya virus corona berdampak pada dunia pariwisata. Mungkin juga karena
kami tiba dilokasi terlalu cepat sih. Dari sekian warung, kami memilih untuk
bersinggah di Warung Bu Aim. Entah melucu atau tidak, setelah kami memesan
minuman hangat dirinya bertanya “Mas mas tau nggak katanya saya terkenal di
dugel?” Kami sempat bingung, apa itu dugel? Setelah kami diskusikan dengan
halus dan sopan kepada Bu Aim, akhirnya kami mengerti apa yang beliau maksut.
Tak lain adalah GOOGLE! Yap benar sekali, sangat mirip, dugel…
Seperti biasa, rasa penasaran saya muncul. Saya pun bertanya
bagaimana situasi Kawah Ijen belakangan ini, mulai dari iklim hingga
perekonomian warga yang bekerja di area Kawah Ijen, tentu kami menggunakan
kalimat yang sopan dan mudah dimengerti. Dirinya menjawab, semenjak SBY wisatawan
di Kawah Ijen menurun, yang kami bingung apa maksutnya SBY? Apa iya mantan
presiden jadi kebawa-bawa? Setelah mengamati dan berusaha tidak tertawa dengan
kebingungan yang ada, akhirnya kami baru paham maksut beliau adalah PSBB, PSBB
OIIII! Kenapa mantan presiden jadi kebawa-bawa hadeh hahahah. Lantas dirinya
menjelaskan bahwasannya belakangan ini di Kawah Ijen sering terjadi hujan, kami
pun bertanya biasanya hujan turun jamberapa, kurun waktu berapa lama, dan deras
atau tidaknya. Dirinya pun menjawab “Ya hujan terus sih mas gak nentu, ya kaya
gini” Sambil menunjuk udara dan langit yang mana tidak ada hujan sama sekali,
tolong garis bawahi, sama sekali.
Lagi dan lagi, kami dibuat bingung. Ini maksutnya apa
ya, kaya lagi main teka-teki deh. Agar tidak terkesan mengesalkan karena bertanya
terus, saya mencoba mengalihkan perbincangan ke obrolan lain lalu baru bertanya
lagi di persoalan yang sama ini. Namun pertanyaannya saya modif sedikit, kali
aja menghasilkan jawaban yang berbeda dan lebih mudah dipahami. Saya pun
bertanya “Oh berarti ujan yang diatas gunung nanti sama yang disini sama ya
bu?” Lalu dirinya menjawab “Nah iyaa sama.” Lalu saya menimpal lagi “Ooh
berarti itungannya deras atau tidak ya bu?” akhirnya jawaban nya lumayan
menjawab “Ya kaya ini loh mas kaya yang sekarang ini”. FYI, itu lagi gak hujan,
boro ujan gede, gerimis aja enggak. Yang ada cumin kabut dan partikel-partikel
air lembab yang bergerak didalam kabut secara horizontal. Akhirnya saya paham
maksut beliau, jadi kabut = hujan. Versi beliau.
Waktu telah menunjukkan pukul 20:00 dan kami pun
beranjak tidur diwarung Bu Aim. Semua tertidur lelap kecuali saya dan Rafii.
Rafii sempat tidur sebentar selama 30 menit, tapi saya tidak sama sekali. Saya
memang sering sulit dan memang kurang suka tidur ketika sedang jalan-jalan.
Tapi saat itu saya memang ingin tidur namun tidak bisa, akhirnya saya tidak
tidur hingga tiba pukul 02:30 dan kami langsung bergegas menyiapkan barang juga
diri lalu melakukan peregangan. Kami langsung mengantri pada loket tiket yang
tersedia yang memang baru dibuka pukul 02:30 karena pandemi. Biasanya sih
selalu buka, tapi karena pandemi diterapkan buka tutup, kami tidak tahu
pastinya ditutup jamberapa, yang jelas bukanya baru jam 02:30. Kami langsung
mengambil antrean dan menyiapkan uang tiket, seharga Rp. 5.000 yang mana tiket
tersebut dipesan online. Sistem bayar parkir juga sudah online, untuk
mobil dikenakan biaya Rp. 10.000.
Kami pun mulai mendaki di Kawah Ijen selama 2 jam
karena ada anggota yang sakit. Memang pada umumnya pendakian menuju Puncak Ijen
memakan waktu selama 90-120 menit. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi, kalau berjalan
lebih cepat bahkan berlari dapat mengirit waktu yang tadinya 120 menit bisa
menjadi 40 menit. Kembali ke cerita, ditengah perjalanan menuju Puncak Ijen,
kami melihat Gunung Raung dari kejauhan yang sedang memuntahkan lava nya.
Mungkin seumur hidup saya, ini merupakan salah satu momen paling epic. Kami
pun mencoba mengabadikannya namun saying, kamera kami tidak cukup baik untuk
mengabadikan momen tersebut didalam kegelapan. Di Gunung Ijen, terdapat jasa
antar pulang pergi semacam ojeg, namun alat transportasinya menggunakan semacam
alat modifikasi dari gerobak semen namun beroda empat. Alat itu juga sering
digunakan para pengepul belerang yang sangat kuat, kadang juga mereka hanya
menggunakan karung yang digunakan untuk membawa belerang mereka naik turun
gunung, wow banget.
Sesampainya di Puncak Ijen, hari masih gelap. Meski
begitu, kami tetap bisa membedakan langit yang gelap karena belum terbitnya
matahari, dengan asap hitam yang melintas dilangit. Asap tersebut merupakan
asap erupsi dari Gunung Raung. Kami pun berfoto-foto diatas tanpa turun ke
Kawah Ijen, kami mendapat informasi dan saya pribadi telah melihatnya dari
kejauhan bahwasannya blue fire atau api biru tidak keluar. Memang sih
dari segi bulan dan waktu saja kita sudah kurang tepat. Biasanya api biru yang
besar itu ada di bulan September hingga Desember, dan waktu untuk melihat api
biru paling tepat ialah pukul 02:00-04:00 dini hari. Tapi tidak apa-apa, karena
kami tetap bisa menikmati pemandangan dari Puncak Ijen, saya pribadi juga sudah
pernah liat hehe. Oiya folks, jangan lupa bawa masker kalau perlu lapis 2,
karena it’s okay to be lebay. Gak deng, karena disana terdapat sumber
belerang, jadi ketika angin bertiup dan membawa asap belerang, bisa-bisa kita
pusing jikalau menghirupnya.
Bagi
yang belum tahu, Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi yang terletak di
perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia.
Gunung ini memiliki ketinggian 2.386 mdpl dan terletak berdampingan dengan
Gunung Merapi. Dari Kawah Ijen, kita dapat melihat pemandangan gunung lain
yang ada di kompleks Pegunungan Ijen, di antaranya adalah puncak Gunung Marapi yang
berada di timur Kawah Ijen, Gunung Raung, Suket, dan Rante.
Sementara Kawah
Ijen adalah sebuah danau kawah yang
bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan kedalaman danau 200
meter dan luas kawah mencapai 5.466 Hektar. Danau kawah Ijen dikenal merupakan
danau air asam kuat terbesar di dunia, kawah atau danau ini juga berada
dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen. Fenomena eternal blue fire atau
api biru abadi berada di dalam kawah Ijen, dan pemandangan alami ini hanya
terjadi di dua tempat di dunia yaitu Etiopia (Gunung Dallol) dan
Ijen.
Pukul 05:00-06:30 adalah waktu kami untuk mengabadikan
momen sambil memasak kopi dan memakan biskuit. Menikmati tiupan kabut yang
kerap dating dan pergi, sambil mencoba mengerti apa yang sedang terjadi pada
Raung. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 06:30, waktunya kami turun dari
Gunung Ijen menuju parkiran. Kami berjalan sambil mendokumentasikan panorama
disekitar jalur pendakian yang semalam tidak kelihatan saat kami lewati.
Tibalah kami diparkiran pukul 07:30, lalu kami istirahat, sarapan, dan
bersiap-siap menuju tempat penginapan yaitu Catimore Homestay di Kawasan
Perkebunan Kopi Blawan yang masih dalam Kabupaten Bondowoso. Kami tiba di
penginapan pada pukul 09:30. Suasana nya sangat nyaman, matahari yang hangat
tapi tidak menyengat, sekaligus pemandangan perkebunan juga lingkungan pedesaan
yang indah. Kami pun tidur hingga waktu yang telah ditentukan yaitu jam 16:00, yaitu
waktu untuk makan. Sekedar informasi, cukup sulit untuk mencari makanan di
sekitaran penginapan. Opsinya adalah membawa makanan sendiri, makan
dipenginapan, atau meminta tolong kepada warga yang sekiranya memiliki warung
untuk membuatkan makanan seperti nasi goreng seperti kami hahahaha tapi tetap
bayar. Suasana sore hari di area sekitar penginapan sangatlah tentram,
benar-benar tentram. Ditambah sinyal yang buruk membuat kami jadi semakin
jarang bermain gadget.
Maghrib mengambang kami pun sembayang. Selesai dari
itu kami langsung ngopi dan bersantai dihalaman penginapan, menikmati
pemberhentian karena esok pagi kami harus bergegas menuju Taman Nasional
Baluran. Malam jadi saksi kisah perjalanan kami yang penuh canda tawa, bahkan kami
tak kunjung tidur karena selalu bercerita sambil tertawa.
Tiba dikeesokan hari, 8 Februari 2021. Kami bersiap
sedari pukul 07:00 pagi hingga pada pukul 09:00 kami pergi meninggalkan tempat
yang tenang ini. 3 setengah jam merupakan estimasi perjalanan menuju Taman
Nasional Baluran. Pergi dari catimore, kami melewati jalan yang sama seperti
awal berangkat ke Gunung Ijen. dan kami baru sadar kalau longsornya lumayan
hebat. Ternyata kejadian longsornya 2 hari sebelum kami melewati jalan
tersebut, lagi dan lagi pemilihan waktu tim SOS memang sudah tidak diragukan,
hehe.
Di dekat Pelabuhan sebelum destinasi tujuan, kami
makan siang yang mana harganya tergolong mahal untuk warung pinggir jalan.
Sebenarnya tidak apa-apa karena tempat ini membawa kenangan ke 3 tahun lalu
yaitu Desember 2018 ketika saya dan Bayem melakukan perjalanan menuju Gunung
Ijen dan Taman Nasional Baluran. Tempat ini memiliki view langsung ke laut
lepas bahkan kami dapat melihat Pulau Bali. Enaknya sih makan di sore hari
kalau siang-siang panas soalnya hahaha. Dari segi makanan hingga tempat sih
enak, tapi yang jadi masalah adalah air yang digunakan ada encu nya WKWK. Bagi
yang gatau, encu itu jentik nyamuk.
Sesampainya di Taman Nasional Baluran pada pukul
13:15, kami bertemu dengan petugas taman nasional di gerbang awal dan mereka
bilang kami harus memiliki surat keterangan sehat mengingat kami berjalan
disaat pandemi covid-19. Beruntungnya tak jauh dari taman nasional ada puskesmas
dan kami langsung mengurus surat keterangan sehat. Surat keterangan sehat
tersebut didapat setelah mengecek beberapa tes kesehatan lalu membayar Rp
11.000. Singkat cerita kami langsung kembali ke baluran dan mengurus tiket
masuk seharga Rp 16.000 (weekday). Kami memasuki baluran pada pukul
13:30, kebetulan warna rumput sabana di baluran sedang tidak berwarna kuning
karena waktu itu masih musim hujan. Berhubung saya pribadi sebelumnya sudah
pernah ke baluran 2x, saya sudah menikmati pemandangan rumput sabana yang
berwarna hijau seperti kali ini, juga pernah melihat rumput sabana yang kuning.
Diluar pembicaraan mengenai warna rumput sabana, ada yang lebih unik. Dulu
pertama kali saya kesana, terdapat rumput berwarna hijau yang cukup langka yang
saya pribadi belum pernah melihatnya ditempat lain. Tepatnya tempat tersebut terdapat
di antara pintu masuk baluran menuju sabana, hmm cukup sulit sih
menjelaskannya.
Kembali ke cerita hari ini, kami pun menaiki menara
baluran yang dapat melihat panorama sabana baluran seluas-luasnya. Oiya, di
baluran sendiri juga terdapat pantai yang bernama Pantai Bama. Pantai Bama
merupakan pantai yang tergolong bersih dari sampah, memiliki sedikit karang,
dan ombak nya yang tenang. Namun sayang saya hanya dapat mengingat-ingat Pantai
Bama tanpa dapat memberikan dokumentasinya, karena saya kesana tahun 2017 yang
mana itu pertama kali saya ke baluran, kali ini kami tidak sempat ke Pantai
Bama dikarenakan waktu perjalanan kami yang padat, karena budget yang sedikit
hehe.
Tiga jam empat puluh lima menit adalah waktu yang
dibutuhkan kami untuk menempuh perjalanan menuju destinasi berikutnya, yaitu
Pulau Merah. Niat awal kami ingin melihat sunset di Pulau Merah. Namun
apa boleh buat, matahari lebih cepat tenggelam dari yang diperkirakan. Hahaha
sebenarnya mah karena ujan dan kaca mobil kami jamuran, jadi harus hati-hati
banget jalanannya gelap soalnya. Sesampainya di pulau merah, hujan masih sangat
deras. Persetan soal hujan yang deras, karena niat awal kami langsung menggelar
tenda dipinggir pantai gak pake tapi-tapian. Eh ternyata wisata Pulau Merah
tutup pada hari senin, kusut saya. Mau tidak mau kami tidak bisa berkemah
disana, sebenarnya mau diterobos aja karena katanya boleh-boleh saja, cuman
mobil mau ditaro mana!? Masa asal-asalan taro dipinggir jalan.
Kami pun melihat ada café yang buka, setelah liat-liat
tempatnya sih lumayan lah, langkah berikutnya adalah melihat harganya,
kebetulan sih cocok dikantong hahaha, lumayan lah bisa nongkrong bergaya hedon
dikit. Kami ngobrol-ngobrol tipis sambil berdiskusi tentang bagaimana tentang
malam itu, apakah mau cari pom bensin lalu tidur di mobil atau mencari
penginapan yang murah? Kebetulan café yang kami singgahi sebenarnya café
didalam penginapan bernama The Wisma, akhirnya kami pun iseng bertanya kepada
penjaga nya soal harga-harga kamar yang ada. Setelah kami berpikir panjang,
kami pun memutuskan untuk menginap di penginapan The Wisma. Dikenakan biaya Rp.
500.000 untuk kamar dengan 1 kamar mandi, dua kasur, dan dua porsi sarapan
pagi. Yah keluar duit lagi deh, tapi gapapa lah ya. Kami pun bercanda hingga
pukul 22:00 lalu tidur hingga pukul 06:00 pagi.
Setelah sarapan dan mempersiapkan barang-barang, kami
berjalan kaki menuju pantai di Pulau Merah yang tak jauh dari penginapan kami.
Mungkin sekitar 200 meter. Kami menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam
untuk bersantai dan membicarakan agenda selanjutnya. Sebenarnya, sunset di
pulau amatlah bagus. Kebetulan saya pribadi sudah pernah ke Pulau Merah
sebelumnya dan saya sempat menyaksikan keindahan momen matahari tenggelam di
Pulau Merah. Panorama sunset nya indah bangeeeet men, biar kebayang sih
ada burung-burung terbang, kabut tipis diatas bukit yang ada di sisi laut, juga
matahari yang menyala. Inilah alasannya mengapa disebut Pulau Merah, karena sunset
nya yang merekah.
Pukul 09:00 kami bergegas menuju penginapan,
bersih-bersih dan rapih-rapih hingga pukul 10:00 dan kami langsung melanjutkan
perjalanan menuju Merubetiri. Gokil bro, Merubetiri!
Kami menempuh perjalanan selama 1 jam untuk tiba di
gerbang Taman Nasional Meru Betiri. Kami diberikan informasi bahwa didalam sana
masih banyak satwa, terdapat juga banyak monyet jahil seperti di baluran. Dari
pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri menuju parkiran terakhir di Teluk Hijau
memakan waktu perjalanan selama 30 menit. Setibanya disana kami langsung
memarkir mobil, mengemas barang bawaan sekitar 30 menit dan pada pukul 12:00
kami langsung berjalan kaki menuju Teluk Hijau. Waktu yang dibutuhkan untuk
berjalan kaki menuju teluk hijau dari parkiran terakhir ialah 1 jam 15 menit.
Sepanjang berjalan kaki menuju Teluk Hijau kami bertemu dengan banyak sekali
satwa, mulai dari monyet beragam buntut dan warna nya, hingga burung elang.
Tapi tetap saja, momen paling pecah itu pas kita keluar dari hutan yang
tiba-tiba udah dipinggir pantai, sumpah keren banget, ini mah private beach
men!
Setelah melewati 2 bukit, akhirnya kami tiba juga di pantai
yang tidak ada orang sama sekali selain kami berlima. Pasir yang benar-benar
putih, warna air laut yang benar-benar jernih, dan yang gila lagi nih, ada air
terjun yang jernihnya juga. Alig banget sumpah, mana aliran dari air terjunnya
langsung ngalir ke laut lagi, beh bener-bener bikin merinding deh ampun saya
mah. Gak tahan, saya langsung cobain air terjunnya dulu, abis itu baru lompat
ke pantai, baru deh bilas di air terjun. Tau gak yang ngeselin apa? Ada satu
monyet gede banget yang dari pertengahan hutan udah ngikutin kami berlima,
monyet ini juga gak takut sama manusia gak kaya monyet yang lain. Ini monyet
bisa-bisa nya ngambil tas nya si Bayem yang berisikan kamera, hp, dompet kita
semua, dan juga kunci mobil! Hadeh. Bahaya banget sumpah, pelajaran nih jangan
tinggal barang sembarangan ya, itu untung tas si Bayem terselamatkan. Si monyet
udah ngambil terus dibawa lari, tapi karena keberatan jadi dia cuman bisa
nyeret-nyeret tasnya di pinggir pantai menuju hutan, kocak sih sebenarnya kalo
diinget, monyet dikejar monyet (Bayem) haha canda yem. Kami bermain dipinggir
pantai selama 1 jam, setelah itu kami langsung berjalan kembali menuju parkiran
namun kali ini kami berjalan lebih cepat jadi hanya memakan waktu selama 35
menit.
Tiba di parkiran pada pukul 14:45, kami langsung makan dan
beres-beres hingga 15:50 di warung yang terdapat pada area parkir. Oiya folks,
sebenarnya kalau mau lebih irit waktu dan mencoba pengalaman baru, kalian bisa
mencoba naik perahu dari parkiran menuju Teluk Hijau, kalau tadi kami berjalan
itu gratis dan memakan waktu sekitar 35 menit hingga 1 jam-an, kalau coba naik
perahu hanya memakan waktu sekitar 30 menit, tapi makan biaya Rp. 20.000 per
orang. Juga saran dari kami, kalau bisa sih jangan datang lalu pergi seperti
kami, tapi menginap semalam. Coba menyebrang ke Pantai Rajakbesi, disana
terdapat penginapan, dan serunya lagi setiap subuh di tiap hari, kita akan
dibangunkan oleh petugas taman nasional setempat untuk diajak melepaskan bayi
penyu ke pantai lepas, duh seru banget hahaha.
Kembali ke cerita, akhirnya perjalanan pulang pun dimulai. Namun
kami singgah di Kota Jember terlebih dahulu. Perjalanan dari Meru Betiri
dimulai pada pukul 15:45 dan tiba di Kota Jember pada pukul 19:30. Kami pun menghampiri
nasi goreng terkenal yang ada di Kota Jember dan menghabiskan waktu sekitar 1
setengah jam, karena kami tidak sekedar makan namun kami juga bertemu dengan
teman kuliah kami yang berasal dari Kota Jember. Udah gitu dibayarin makan lagi
hahahahahah parah gatau diri. Selesai sudah sapaan hangat dari Kota Jember,
pukul 21:00 kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang yang mana kami tiba
disana pada pukul 03:00.
Itu lah cerita kami, 5 remaja dalam misi 4 hari untuk selama
nya. Kelak nanti alam Jawa Timur akan mengingat kisah perjalanan kami, juga
harapannya akan ada generasi penerus, generasi pemuda yang memiliki semangat
akan mengenal keindahan tanah air nya sendiri, tak sungkan untuk kenal dengan
orang asing dan belajar budaya setempat. Tumbuhlah Bersama tumbuhan.
Berikut itinerary perjalanan kami beserta biaya
yang dikeluarkan.
|
Tanggal |
Jam |
Aktivitas |
Biaya |
|
|
07.00 08.00 – 10.30 10.30 10.30 – 10.45 10.45 – 11.30 11.30 – 13.00 13.00 – 13.30 13.30 – 13.45 13.45 – 14.20 14.20 – 20.00 20.00 |
Persiapan
dari basecamp SOS (Malang) OTW Air
Terjun Madakaripura Sampai di
Parking Area Naik Ojek
sampai pintu loket Bayar tiket
masuk Madakaripura Trekking dari
loket sampai ke air terjun Mengambil
dokumentasi foto dan video di air terjun Madakaripura Trekking
kembali ke pintu masuk Naik ojek ke
area parkir Ishoma di
sekitar area parkir Perjalanan
menuju Ijen Tiba di area
parkir Ijen Membayar
parkir Mengurus
perizinan masuk Ijen (online) |
Parkir Rp5.000
(mobil) Tarif Ojek
Rp10.000 Tiket masuk Rp25.000 Tarif Ojek Rp10.000 Parkir
Rp10.000 (mobil) Tiket Masuk
Rp5.000 |
|
|
20.00 – 02.30 02.30 – 03.00 03.00 – 05.00 05.00 – 06.30 06.30 – 07.30 07.30 – 08.30 08.30 – 09.30 09.30 16.00 16.00 – 23.00 |
Istirahat
tidur di warung sebelum trekking ke kawah Ijen Persiapan
trekking (briefing, pemanasan) Trekking Kawah
Ijen Sesi
dokumentasi, masak di atas Perjalanan
turun ke area parkir Istirahat,
makan di warung Perjalanan
menuju homestay Catimore, Blawan Tiba di
homestay dan beristirahat Makan di
warung milik penduduk sekitar homestay Ngobrol2 dan
istirahat |
|
|
8 Februari
2021 |
07.00 – 09.00 09.00 – 11.45 11.45 – 12.30 12.30 – 13.15 13.15 – 13.30 13.30 13.30 – 14.30 14.30 – 18.15 18.15 – 20.00 20.00 22.00 – 06.00 |
Bangun dan
packing2 barang Perjalanan
menuju daerah Taman Nasional Baluran Makan siang
di dekat pelabuhan Melanjutkan
perjalanan menuju Taman Nasional Baluran Mengurus
surat keterangan sehat di puskesmas terdekat Membeli tiket
masuk Taman Nasional Berkeliling
di Taman Nasional, mengambil dokumentasi dan menaiki tower Perjalanan
menuju Pantai Pulau Merah Nongkrong di
café dekat pantai sekaligus tanya2 info penginapan Memilih
menginap di The Wisma Pulau Merah Beristirahat
di penginapan |
Rp11.000 Rp16.000
(weekday) Rp500.000
(berlima) |
|
9 Februari
2021 |
07.30 – 09.00 09.00 – 10.00 10.00 – 11.00 11.00 11.00 – 11.30 11.30 – 12.00 12.00 – 13.15 13.15 – 14.15 14.15 – 14.50 14.50 – 15.45 15.45 – 19.30 19.30 – 21.00 21.00 – 03.00 |
Bermain ke
Pantai Pulau Merah dan dokumentasi (jalan kaki dari penginapan) Mandi dan
packing2 untuk lanjut ke Merubetiri Perjalanan
menuju Taman Nasional Merubetiri Tiba di
gerbang Taman Nasional Merubetiri Lanjut
menggunakan kendaraan sampai ke Pantai Rajek Wesi untuk parkir kendaraan Packing
barang2 yang akan dibawa trekking menuju Greenbay Trekking ke
Greenbay Bermain dan
dokumentasi di Greenbay Trekking
kembali ke Pantai Rajek Wesi (area parkir) Mandi dan
makan di warung setempat Perjalanan
menuju Kota Jember Berwisata
sebentar di Kota Jember Perjalanan
kembali ke Kota Malang |
Tiket Masuk
Rp5.000 |
Lain – lain :
1.
Sewa Mobil (4 hari) = Rp250.000 x 4 =
Rp1.000.000
2.
Isi Bensin (3 kali isi) = =
Rp700.000
Komentar
Posting Komentar